Inspirasi Mbah Joyo Besarkan Jamu Ayam Jago Dan Pekerjakan 70 Karyawan
Sutrajaya alias Mbah Joyo |
WARTAJOGJA.ID: Ada kisah menarik dari bumi Projotamansari, Kabupaten Bantul Daerah Istimewa Yogyakarta.
Kisah itu tentang Sutrajaya pemilik dan pembuat Jamu Ayam Jago ‘Mbah Joyo’ yang terkenal di seluruh penjuru tanah air.
Siapa menyangka, Mbah Joyo ternyata mengawali bisnisnya dari nol. Bahkan sebelum menggeluti jamu untuk ayam, dirinya pernah berjualan asongan.
Sutrajaya yang akrab dipanggil Mas Joyo ini
mengatakan sempat mencari cacing dengan menyusuri sungai. Cacing tersebut
kemudian dijualnya ke warung-warung yang menyediakan pakan ternak. “Dulu juga
sempat jualan koran, TTS,” katanya, di kediamannya daerah Tamanan, Banguntapan,
Bantul, pada Jumat (4/12).
Joyo mengatakan, sejak lama memang dirinya gemar
memelihara ayam jago. Ia kemudian mencoba untuk membuat jamu untuk dikonsumsi
ayam jago peliharaannya. “Awalnya memproduksi jamu untuk ayam jago saya
sendiri,” katanya.
Jamu untuk ayam jago miliknya itu kemudian
ditawarkannya kepada pelanggan cacing sungainya. Karena respon yang cukup baik,
ia kemudian mengembangkan pemasaran dalam penjualan jamunya ini.
“Saya coba mobilisasi ke luar Yogyakarta, seperti ke
Solo. Dulu saya pakai motor dan kronjot (keranjang motor),” katanya.
Jamu Mbah Joyo akhirnya semakin banyak dikenal meluas. Modalnya untuk membeli bahan baku, mulai meningkat. Dari Rp30 ribu, menjadi Rp50 ribu, lalu Rp500 ribu dan sampai saat ini bisa mencapai Rp10 juta untuk setiap produksi. “Itu hanya untuk bahan baku saja. Bahkan ada sebagian bahan yang import,” ucapnya.
Joyo mengatakan,
memutuskan untuk membeli bahan baku import yang terkandung dalam Jamu
Mbah Joyo ini awalnya ada masukan dari salah seorang pelanggannya. ”Ada satu
konsumen mengatakan, Jamu Mbah Joyo bagus tapi sayang hanya untuk menyehatkan
saja. Bukan untuk menambah tenaga,” katanya.
Dari masukan itu, Joyo kemudian mencari cara supaya
Jamu Mbah Joyo ini bisa menyehatkan sekaligus memberikan tenaga untuk ayam.
Namun tetap semua bahan dari herbal. “Saya campur dengan ramuan-ramuan.
Akhirnya banyak bahan yang saya beli. Semuanya herbal, tidak ada satu tetespun
dari bahan kimia,” katanya.
Jamu Mbah Joyo |
Kualitas Jamu Mbah Joyo yang semakin meningkat ini diikuti pula dengan pemasaran yang semakin meluas. Joyo mengatakan, jamu buatannya tersebut sudah dipasarkan di penjuru tanah air.
“Produk saya akhirnya dipasarkan dari Sabang sampai
Merauke. Bahkan waktu saya ke Malaysia, banyak orang Malaysia yang punya jamu
itu. Thailand, Myanmar juga ada. Jadi ada orang yang menjual ke sana (luar
negeri), bukan saya,” katanya.
Setiap produksi, Jamu Ayam Jago Mbah Joyo biasanya membuat sekitar 6 dos yang berisi kisaran 3.600 bungkus jamu. Dalam membuatnya, dirinya saat ini telah dibantu oleh lebih dari 70 tenaga kerja. “Karyawan rata-rata merupakan warga yang tinggal di sekitar pabrik,” kata, Joyo.
Karyawannya terbagi dalam dua divisi, yakni divisi
pencetakan dan pengemasan. Untuk pencetakan merupakan tenaga kerja usia lanjut
atau orang tua yang tidak punya pekerjaan di rumah. Sedangkan pengemasan, anak
muda yang putus sekolah. Seluruh tenaga kerjanya ini pun mendapatkan upah
layak, bahkan di atas Upah Minimum Regional (UMR).
“Terkadang kewalahan karena permintaan banyak.
Sehingga mau tidak mau tambah tenaga kerja atau lembur. Sebenarnya memang bisa
menggunakan mesin untuk menjangkau hasil produksi, tapi saya khawatir ada
pengurangan tenaga kerja. Karena saya yakin orang yang kerja di tempat saya itu
membutuhkan, apalagi saat ini pandemi,” katanya.
Joyo juga mengatakan, ia pernah merasakan betapa
pahitnya hidup susah dan harus mengawali bisnis dari nol. Sehingga saat dirinya
diberi rejeki lebih seperti saat ini, ia merasa terketuk untuk bisa bermanfaat
kepada orang lain. “Setidaknya bisa membantu orang lain yang juga merasakan
nasib seperti yang saya rasakan dulu. Saya terketuk membantu mereka untuk
setidaknya meringankan beban,” dia.
Tak hanya memberikan pekerjaan kepada puluhan orang saja. Joyo juga selama ini rutin melakukan kegiatan amal seperti santunan kepada minimal seratus anak yatim di Bantul setiap bulannya. (Arifin)
Boleh minta nmr contact mbah joyo
ReplyDelete